Jumat, 24 Januari 2014

Tutorial Pembuatan Graphviz Sederhana



Graphviz adalah sumber grafik perangkat lunak visualisasi terbuka. Visualisasi grafik adalah Cara untuk mewakili informasi struktural sebagai diagram grafik abstrak dan jaringan. Ini memiliki aplikasi penting dalam jaringan, bioinformatika, rekayasa perangkat lunak, database dan desain web, pembelajaran mesin, dan antarmuka visual untuk domain teknis lainnya.

Aplikasi ini akan menerjemahkan bahasa DOT yang mendefinisikan hubungan berbagai komponen pada directed graph seperti node, edge, bentuk node, warna, dan sebagainya.

Beberapa command line yang terdapat pada Graphviz :
dot : digunakan untuk menggambar graph berarah (directed graph) hierarkis.
neato : menggambar graph standar. Gunakan aplikasi ini jika ingin menggambar graph tidak berarah (undirecred graph). Cocok untuk graph yang tidak terlalu besar (sekitar 100 node).
fdp : menggambar graph layout seperti neato.
sfdp : menggambar layout graph yang sangat besar.
twopi : menggambar layout radial.
circo : menggambar layout circular.

Langkah-langkah pembuatan GRAPHVIZ berupa gambar graph berarah, dengan nama “jalaninggris.dot” :

1. Download perangkat lunak Grahpviz di http://www.graphviz.org/Download.php. Download sesuai dengan OS computer anda. 

2. Selanjutnya kita akan membuat sebuah graph sederhana dengan nama file “jalaninggris.dot” dan perintah seperti gambar dibawah ini.





 3. Orang tua dari setiap graph saya akan buat kotak pada tulisannya, ini untuk membedakan dengan anak dari graph. Perintah untuk membuat sebuah kotak yaitu :

INGGRIS[shape=box,color=green,fontcolor=white,style=filled];
LONDON[shape=box,color=yellow,fontcolor=white,style=filled];
MANCHESTER[shape=box,color=red,fontcolor=white,style=filled];

OUTPUT



TUTORIAL IMAGE MAGICK




ImageMagick bersifat free yang dapat dengan bebas Anda gunakan, salin, memodifikasi, dan distribusikan. Lisensinya kompatibel dengan GPL dan dapat berjalan di semua sistem operasi utama.
Fitur yang tersedia
Berikut ini beberapa contoh fitur yang tersedia pada ImageMagick:
• Konversi : convert gambar dari satu format ke format lain (misalnya, PNG ke JPEG)
• Transformasi : memperbesar, memperkecil, memutar, memotong, flip, atau trim foto
• Transparansi : mengatur tingkat transparansi dari gambar
• Menggambar : menggambar bentuk atau menambahkan teks ke foto
• Menghias : menambah border atau bingkai ke foto
• Menambahkan fek : blur, sharpen, threshold, atau tint foto
• Animasi: membuat animasi GIF dari sekumpulan foto berdasarkan urutan tertentu
• Identifikasi gambar : menjelaskan format dan properti dari sebuah gambar
• Komposit : menggambarkan gambar yang satu dengan gambar lain
• Montage : menjajarkan gambar thumbnail pada canvas
• Kalkulasi gambar : menerapkan matematika ekspresi ke gambar


Langkah-langkah dalam mengkonvert, crop, gray, rotate sebuah gambar:
1. Instal ImageMagick
2. Selesai melakukan penginstalan Image Magick , kita dapat melakukan pengeditan gambar atau foto menggunakan software tersebut. Saya membuat folder dengan nama tugastugas, kemudian dilanjutkan menggunakan command prompt seperti gambar dibawah ini.

3. Perintah untuk melakukan rotate yaitu “convert pika.png –rotate 55 pikaput.png”, maksudnya adalah kita akan mengkonversikan sebuah gambar dengan nama pika.png menjadi pikaput.png untuk di rotate sebesar 55o


Gambar Awal


Setelah dirotate


4.Perintah untuk melakukan konversi warna RGB menjadi Grayscale “convert pika.png –set colorspace RGB –colorspace gray pikabu.png”.


Gambar Grayscale


5.Untuk pemotongan picture dengan menggunakan perintah “convert pika.png –gravity Center –crop 50x60%+0+0 pikapot.png”. 


Hasil Crop Foto dengan zoom 60%


Terimakasih ^^

PROPOSAL PENGAJUAN Pembuatan Aplikasi E-Government untuk Tata Kelola Yang Baik

Daftar Isi

Abstraksi …………………………………………………………………...1
Pendahuluan ………………………………………………………………..3
Level awal………………………………………………………………..…3
Level  kedua………………………………………………………………...3
Level ketiga…………………………………………………………………4
Level keempat ………………………………………………...……………4
Level kelima ……………………………..…………………………………5
Perumusan Masalah ………………………..............................................7
Inisiatif TI masih terpencar, akibatnya pemborosan……............................7
Lack koord…………………………………………………………………..8
Lack detail requirement………….............................................................8
Lack political support…………………………………………………………8
Lack of awareness …………………………………………………………...9
Lack leadership …………………………………………………………...…9
Metodologi …………………………………………………………..……...14
Identifikasi masalah ……………………………………………...………….15
Pengumpulan data dan sumber pendukung (literatur) …………………….15
Analisis Kebutuhan, Perancangan, dan Implementasi  ……………………16
Analisis dan Uji Coba Sistem ……………………………………………..17
Pembuatan Paket Sistem (Installer) ……………………………………….18
Rancangan Anggaran ……..……………………………………………….19


Abstraksi

Globalisasi informasi memaksa setiap insan baik individu ataupun kelompok, baik swasta maupun pemerintah, untuk memperhitungkan sistem informasi yang akan diterapkan supaya tetap kompetitif di era globalisasi. Sampai saat ini, banyak kegiatan yang dilakukan pemerintah secara terpisah, tanpa adanya suatu perencanaan yang terintegrasi antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya. Dua faktor/parameter utama yang perlu diperhitungkan dalam strategi pengembangan sistem informasi nasional adalah SDM yang berkualitas dan alternative sistem/teknologi yang digunakan. Sering sekali dalam pengembangan sistem informasi, setiap instansi pemerintah melakukan perencanaan sendiri-sendiri, tanpa adanya koordinasi yang saling mendukung. Akibatnya dalam  penerapannya, terjadi pemborosan anggaran karena setiap bagian membuat inisiatif sendiri tanpa ada suatu perencanaan yang baik. Disamping itu juga, lemahnya dukungan secara politik, kurangnya perhatian terhadap pentingnya sistem informasi dan juga lemahnya kepemimpinan. Hal ini menyebabkan penerapan sistem informasi dan teknologi informasi menjadi cost center yang kurang bermanfaat secara optimal. Kajian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu panduan, bagaimana penerapan aplikasi e- Government untuk tujuan good governance dengan menggunakan metodologi tertentu dari proses perencanaan strategis sampai tahap pengembangan sistem informasi e-Goverment.

Pendahuluan

Pada era informasi, suatu informasi merupakan komoditi strategis yang dapat berperan menghidupkan suatu perusahaan atau justru mematikannya. Globalisasi informasi memaksa setiap insan baik individu ataupun kelompok, baik swasta maupun pemerintah, untuk memperhitungkan system informasi yang akan diterapkan supaya tetap kompetitif di era globalisasi. Dalam kajian Kerangka Teknologi Informasi Nasional (National IT Framework) yang dilakukan barubaru ini, salah satu pilar yang segera harus dibentuk adalah Electronic Government (E-Government) for Good Governance  dengan tujuan dapat mempercepat terbentuknya suatu pelaksanaan pemerintahan yang baik, efisien, dan efektif. Walaupun katakata E-Government sudah sering diseminarkan dan didiskusikan, tetapi di berbagai kalangan akademis, pengusaha, dan bahkan pemerintah mempunyai pemahaman yang berbeda mengenai E-Government. Lebih rinci lagi, Agarwal dalam membagi pengertian E-Government ke dalam lima tingkatan, yang semakin tinggi tingkatannya, semakin kompleks permasalahan yang akan dihadapi.
1.         Level Awal adalah apa yang disebut dengan E-Government untuk menunjukkan “wajah” pemerintah yang baik dan menyembunyikan kompleksitas yang ada di dalamnya. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai web site yang cantik pada hampir semua institusi pemerintah. Pada dasarnya, E-Government tingkat awal ini masih bersifat menginformasikan tentang apa dan siapa yang berada di dalam institusi tersebut. Dengan kata lain, informasi yang diberikan kepada masyarakat luas, masih bersifat satu arah. Kondisi E-Government yang masih berada pada tahap awal ini belum bisa digunakan untuk membentuk suatu pemerintahan dengan Good Governance.
2.         Level kedua dari E-Government, mulai ditandai dengan adanya transaksi dan interaksi secara online antara suatu institusi pemerintah dengan masyarakat. Misalnya, masyarakat tidak perlu lagi antri membayar tagihan listrik, memperpanjang KTP, dan lainlain. Semuanya dapat dilakukan secara online. Usaha ke arah ini sudah mulai dilakukan oleh beberapa institusi dipusat maupun di daerah. Kabupaten Takalar merupakan salah satu contoh daerah yang sudah mulai menerapkan layanan satu atap terhadap masyarakatnya. Komunikasi dua arah antara institusi pemerintah dengan masyarakat sudah mulai terjalin secara online.
3.         Level ketiga dari E-Government memerlukan kerja sama (kolaborasi) secara online antar beberapa institusi dan masyarakat. Apabila masyarakat sudah bisa mengurus perpanjangan KTPnya secara online, selanjutnya mereka tidak perlu lagi melampirkan KTPnya untuk mengurus Pasport atau membuat SIM. Dalam hal ini perlu kerja sama antara Kantor Kelurahan yang mengeluarkan KTP dengan Kantor Imigrasi yang mengeluarkan Pasport atau Kantor Polisi yang mengeluarkan SIM.
4.         Level keempat dari E-Government sudah semakin kompleks. Bukan hanya memerlukan kerja sama antarinstitusi dan masyarakat, tetapi juga menyangkut arsitektur teknis yang semakin kompleks. Dalam level ini, seseorang bias mengganti informasi yang menyangkut dirinya hanya dengan satu klik, dan pergantian tersebut secara otomatis berlaku untuk setiap institusi pemerintah yang terkait. Misalnya, seseorang yang pindah alamat, dia cukup mengganti alamatnya tersebut dari suatu database milik pemerintahan yang besar, dan secara otomatis KTP, SIM, Pasport dan lainlainnya terupdate.
5.         Level kelima, dimana pemerintah sudah memberikan informasi yang terpaket (packaged information) sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah sudah bisa memberikan apa yang disebut dengan “information push yang berorientasi kepada masyarakat. Masyarakat benarbenar seperti raja yang dilayani oleh pemerintah. Apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat, E-Government pada level lima ini mampu menyediakannya. Disamping itu Forman mendefinisikan E-Government berdasarkan interaksi penggunanya sebagai berikut:
a.         G2C (Government to Citizen), E-Government yang diperuntukkan bagi layanan publik kepada masyarakat.
b.         G2B (Government to Business), E-Government yang diperuntukkan bagi kalangan bisnis, mengurangi birokrasi dalam usaha.
c.         G2G (Government to Government), E-Government yang diperuntukkan untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar instansi pemerintah.
Permasalahan kependudukan merupakan salah satu isu yang dapat memanfaatkan konsep E-Government. Beberapa negara Eropa dan Asia seperti Inggris, Austria, dan Singapura telah menerapkan system E-Government untuk melayani kebutuhan penduduknya.  Seperti halnya di negara lain, di Indonesia juga menghadapi masalah kependudukan yang cukup kompleks. Departemen Dalam Negeri (Depdagri), Badan Pusat Statistik (BPS), Komisis Pemilihan Umum (KPU), dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN)adalah antara lain merupakan instansiinstansi yang melakukan pendataan penduduk di Indonesia. Kelengkapan dan konsistensi datanya juga sangat diragukan karena bisa saja seseorang terdata dan tercatat lebih dari satu kali di daerah yang berbeda yang disebabkan lemahnya koordinasi di dalam lembaga yang melakukan pendataan tersebut. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya perbedaan data yang didapat oleh instansiinstansi yang berwenang melakukan pendataan, ini dikarenakan metode yang digunakan untuk melakukan pendataan penduduk pada setiap instansi berbedabeda. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans), dan Departemen Sosial (Depsos) juga memerlukan data kependudukan. Instansi – instansi tersebut akan mengalami kesulitan dalam menentukan program kerjanya jika tidak didukung oleh data kependudukan yang akurat. Akan sulit bagi Depdiknas untuk merencanakan program wajib belajar jika tidak ada data yang akurat mengenai jumlah penduduk usia sekolah. Basis data kependudukan yang ada pada saat ini belum siap pakai dan tidak memenuhi kebutuhan setiap instansi. Untuk memenuhi kebutuhan setiap instansi, mereka masih menggunakan basis data masingmasing. Jadi basis data yang ada belum terintegrasi dan tidak mencerminkan data penduduk secara keseluruhan, yang dapat digunakan secara bersamasama. Selain itu proses penduduk yang ingin mendapatkan layanan yang berkaitan dengan dokumen kependudukannya juga tidak efisien. Penduduk harus datang ke kantor instansi yang bersangkutan untuk mengurus dokumen yang mereka butuhkan, belum lagi terhalangani oleh birokrasi di instansi tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem informasi (E-Government) yang bersifat permanen yang mampu melakukan proses registrasi penduduk, berisikan basis data kependudukan yang terintegrasi yang dapat memenuhi kebutuhan setiap instansi dan siap pakai setiap saat. Setiap instansi dapat menggunakan basis data kependudukan ini secara bersamasama untuk kebutuhan yang berbeda. Disamping itu sistem informasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk melayani penduduk yang membutuhkan dokumen kependudukannya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti dan merancang serta berusaha mengimplementasikan sistem informasi kependudukan di Indonesia dengan mempelajari pengalaman negaranegara lain yang telah menerapkan sistem tersebut. E-Government yang dikembangkan ini diharapkan termasuk paling tidak pada level ketiga dari penggolongan E-Government menurut Agarwal diatas.
Perumusan Masalah
Dari uraian pada bagian pendahuluan terlihat bahwa masalah yang sering dihadapi oleh institusi dalam penerapan sistem informasi eGovernment di Indonesia adalah:
1.                  Inisiatif TI masih terpencar, akibatnya pemborosan
Dalam penerapan e-Government, masih banyak instansi pemerintah yang berpikir, setelah menentukan critical success factors, masing-masing bagian atau departemen langsung membuat strateginya masing-masing kemudian dirinci menjadi kegiatan yang bersifat taktis operasional. Salah satunya pengadaan perangkat teknologi informasi yang bila tidak dilakukan secara terintegrasi, kemungkinan pemborosan anggaran sangat tinggi. Padahal hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan investasi yang telah dikeluarkan.
2.                  Lack koordinatif
Setiap instansi memiliki keinginan yang berbeda-beda dalam penerapan sistem informasi. Tidak terjalinnya koodinasi yang baik antar instansi mengakibatkan pelaksanaan penerapan sistem informasi dan teknologi informasi tidak berjalan dengan efektif. Karena masing-masing berjalan sendiri tanpa interaksi antar satu bagian dengan bagian lainnya.
3.                  Lack detail requirement
Keinginan yang terlalu umum  mengakibatkan hasil yang didapatkan tidak spesifik. Karena pada awalnya produk atau jasa yang diinginkan tidak begitu jelas, sehingga setiap individu/departemen yang terlibat tidak tahu persis hasil apa yang diinginkan sebagai keluaran dari suatu proyek aplikasi e-Government. Disamping itu juga, manfaat yang seharusnya didapatkan oleh masyarakat (users) secara signifikan tidak dapat dipenuhi
4.                   Lack political support
Dukungan secara politik sangat mempengaruhi berhasil-tidaknya suatu penerapan aplikasi sistem informasi. Pada kenyataannya suasana politik, terutama yang berkaitan dengan dukungan dan alokasi anggaran, yang lemah dalam setiap rencana penerapan sistem informasi.
5.                  Lack of awareness
Kurangnya kepedulian terhadap keberhasilan e-Government. Pemimpin yang bertanggung jawab dalam penerapan e-Government terkadang kurang memahami kepentingan dari masing-masing stakeholder yang ada dan tidak mau mencoba melakukan kolaborasi agar seluruh perbedaan kepentingan yang dimaksud dapat menuju kepada satu arah pencapaian visi dan misi e-Government (konvergensi). Setiap pemimpin yang bertanggung jawab dalam pengembangan e-Government harus memahami bahwa pihak-pihak yang dianggap sebagai stakeholder utama dalam proyek e-Government antara lain: pemerintah (lembaga terkait dengan seluruh perangkat manajemen dan karyawannya), sektor swasta, masyarakat, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, perusahaan, dan lain sebagainya. Terlepas dari bermacam ragamnya stakehoder yang ada, yang sering terlupakan bahwa pada akhirnya yang akan merasakan manfaat atau berhasil tidaknya e-Government yang dilaksanakan adalah pelanggan.
6.                  Lack leadership
Faktor kepemimpinan biasanya melekat pada setiap orang yang bertanggung jawab sebagai pemimpin dari penyelenggaraan suatu penerapan sistem informasi. Namun masih banyak kelemahan dalam hal mengelola:
a.                   Beragam tekanan politik yang terjadi terhadap penerapan aplikasi e-Government baik dari kalangan yang optimis maupun yang pesimis.
b.                  Kurangnya sumber daya yang dibutuhkan, seperti misalnya sumber daya manusia, finansial, informasi, peralatan, fasilitas.
c.                   Sejumlah kepentingan dari berbagai kalangan (stakeholders) terhadap e-Government yang sedang atau akan dilaksanakan.

Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa tahapan seperti
terlihat pada Gambar 1.


Gambar 1. Metodologi Penelitian

1.         Identifikasi masalah
Pada tahap ini dilakukan identifikasi terhadap permasalahan yang ada. Dari permasalahan tersebut akan dicoba dibuat hipotesis, kemudian dilakukan penelitian dan uji coba untuk membuktikan hipotesis tersebut. Permasalahan yang telah diidentifikasi sampai saat ini dapat dilihat pada bagian perumusan masalah. Sedangkan hipotesis penelitian dapat dilihat pada bagian hipotesis dan manfaat diatas.
2.         Pengumpulan data dan sumber pendukung (literatur)
Pengumpulan literatur yang mendukung penelitian dilakukan pada tahap ini. Literaturliteratur diambil dari penelitianpenelitian sebelumnya maupun dari jurnaljurnal ilmiah, baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu Literatur yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah tulisan mengenai E-Government yang ditulis oleh Hasibuan [HAS01]. Sedangkan literatur lainnya berkaitan dengan E-Government dan khususnya mengenai kependudukan, seperti “Grand Design Sistem Informasi KPU”, “National IT Framework”, “Strategi E-Government” di Amerika Serikat serta penerapan EGovernment di beberapa negara Eropa. Identifikasi masalah Pengumpulan data dan literature Perancangan dan implementasi system Ujicoba dan analisa keluaran system Pembuatan paket system (installer system) Adapun data yang dipergunakan sebagai sampel untuk penelitian, akan diambil dari BPS yang merupakan data penduduk hasil sensus. Data propinsi DKI Jakarta akan digunakan untuk simulasi pada skala kecil.
3.         Analisis Kebutuhan, Perancangan, dan Implementasi
Pada tahap ini akan dilakukan proses analisa kebutuhan sistem, perancangan Serat implementasi terhadap sistem yang akan dikembangkan. Halhal yang dilakukan meliputi:
a.       Rancangan Arsitektur Sistem (Architecture System)
b.       Rancangan Format Data Masukan atau Formform Kependudukan
c.       Rancangan Relasi antar entitas (Entity Relationship) basis data
d.      Rancangan Diagram alur proses dan data sistem (Data Flow Diagram)
e.       Rancangan Antar muka pemakai (User Interface)
4.         Analisis dan Uji Coba Sistem
Setelah dilakukan perancangan dan sistem diimplementasikan, kemudian akan dilakukan tahapan uji coba. Uji coba direncanakan dilakukan dalam dua tahap. Pertama uji coba internal, dimana sistem akan diujicobakan dalam lingkungan terbatas dan sebagai testernya adalah tim pengembang sendiri. Datadata yang digunakan pada tahap uji coba tersebut merupakan data propinsi DKI Jakarta yang diperoleh dari BPS. Selanjutnya dilakukan integrasi data dari beberapa propinsi. Kemudian pada tahapan kedua, dilakukan uji coba eksternal, dimana sistem akan diuji cobakan pada salah satu instansi yang ada, misalnya kelurahan tertentu, dan sebagai testernya adalah pihak dari instansi tersebut. Setelah di uji cobakan maka dilakukan proses analisa kembali apakah sistem yang dibangun sesuai dengan kebutuhan, untuk kemudian dilakukan proses perbaikan.
5.         Pembuatan Paket Sistem (Installer)
Setelah sistem diimplementasikan, dan diuji coba maka langkah selanjutnya adalah membuat paket installer dari sistem tersebut sehingga sistem dapat digunakan atau di install di tempat lain dengan mudah. Tahapan 3, 4 dan 5 merupakan tahapan yang erat kaitannya dengan pengembangan perangkat lunak. Untuk pengembangan perangkat lunak tersebut, kami gunakan metodologi FAST yang cukup banyak digunakan dalam pengembangan suatu aplikasi. Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:
a.       Investigasi awal: pada tahap ini ditentukan ruang lingkup dari proyek, batasan-batasan, partisipan, biaya dan jadwal. Tahap ini bertujuan untuk menilai kelayakan dari proyek tersebut.
b.      Analisa: pada tahap ini dilakukan analisa permasalahan baik dari segi bisnis dan teknologi, yaitu dengan mengidentifikasi permasalahan dan sebab-akibatnya. Dari tahap analisa ini akan diperoleh peluang-peluang yang mungkin dan juga arahan. Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap ini antara lain: studi ruang lingkup permasalahan, analisa masalah dan peluang, analisa proses bisnis, serta penyajian temuan-temuan dan rekomendasi.
c.       Analisa kebutuhan: Pada tahap ini dilakukan analisa kebutuhan dari sistem yang akan dibuat, yang meliputi tujuan pengembangan sistem dan prioritas-prioritas requirements sehingga menghasilkan suatu pernyataan business requirements system.
d.      Analisa keputusan: pada tahap ini dilakukan analisa mengenai solusi teknis yang diperkirakan bisa mengatasi permasalahan sekaligus memenuhi business requirements. Hal tersebut akan digunakan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem yang memenuhi segala requirements tersebut.
e.       Perancangan: pada tahap ini dilakukan perancangan sistem dari segi teknologi. Hasil tahap ini adalah berupa model data, model proses, dan model antar muka.
f.       Konstruksi: pada tahap ini akan dilakukan konstruksi sistem, yang terdiri dari konstruksi basis data dan antar muka serta uji coba terhadap sistem. Tahap konstruksi menghasilkan aplikasi yang siap dijalankan dan memenuhi semua kebutuhan yang ingin dicapai.
g.      Implementasi/operasionalisasi : tahap ini nantinya akan dijalankan oleh pemakai dari aplikasi yang dikembangkan.

Rancangan (design) Penelitian
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai rancangan sistem informasi E-Government. Perancangan yang dibuat meliputi rancangan arsitektur sistem, format data masukan atau form-form kependudukan, relasi antar entitas, diagram alur proses dan data sistem, serta rancangan antar muka pemakai.

1.                  Rancangan arsitektur sistem
Departemen Sosial (Depsos) dan BKKBN diharapkan dapat mengakses system ini terutama basis datanya untuk melakukan proses pengubahan data. Sedangkan masyarakat dapat melihat informasi kependudukan dan mendapatkan layanan kependudukan melalui internet. Masyarakat sebagai pengguna system dapat mengakses system darimana saja yang memiliki akses internet, baik dari rumah, kantor, ataupun warnet. Instansi lain, seperti kantor imigrasi, kepolisian, kelurahan, dan lembaga pemerintah lainnya dapat berfungsi sebagai pengguna system sekaligus bertanggung jawab terhadap layanan kependudukan yang melibatkan instansinya. Mereka dapat melihat informasi dari system dan dapat mengakses basis data dari system. Rancangan arsitektur system dapat dilihat pada gambar 2.


Gambar 2 Aplikasi Dinamis E-Government
2.                  Rancangan format data masukan atau form-form kependudukan
Format data masukan atau form-form kependudukan yang disediakan sistem direncanakan mengikuti bentuk form kependudukan yang terdapat pada tiap instansi. Misalnya form permohonan KTP pada kelurahan, form permohonan Akte pada kelurahan, form permohonan SIM pada Kepolisian, form permohonan passport pada kantor imigrasi, dan sebagainya.

3.                  Rancangan Entity Relationship
Pembuatan rancangan hubungan antar entitas (entity relationship) bertujuan untuk mengetahui keterkaitan entitas data yang kita gunakan dalam basis data nantinya.

4.                  Rancangan alur proses
Pembuatan rancangan alur proses (process modeling) bertujuan untuk mengetahui alur proses bisnis dalam sistem E-Government yang kita kembangkan.

5.                  Rancangan Antar muka
Antar muka dirancang untuk memudahkan pemakai dalam mempergunakan sistem yang akan dikembangkan sehingga sistem lebih user friendly. Rancangan antarmuka di sini meliputi:
a.       Antarmuka untuk administrator
b.      Antarmuka untuk pengguna umum (masyarakat)
c.       Antarmuka untuk bagian administrasi

6.                  Rancangan Uji Coba
Proses ujicoba sistem E-Government ini bisa dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama bias dilakukan dengan sebuah simulasi dalam skala kecil untuk melihat sejauh mana efektifitas dan efisiensi dari sistem yang dikembangkan. Beberapa parameter harus dimasukkan ke dalam sistem untuk menggambarkan real world dari sistem. Tahap kedua merupakan uji coba dalam skala besar yang dilakukan pada lingkungan yang sebenarnya, misalnya saja dalam sistem E-Government di ujicobakan untuk propinsi tertentu. Sebelum tahap kedua dilakukan, terlebih dahulu akan dibuatkan paket installer dari sistem sehingga sekaligus akan diujicobakan paket sistem apakah berjalan dengan baik atau tidak. Selanjutnya jika tahap kedua ini selesai, diharapkan produk yang dihasilkan dapat digunakan lebih jauh oleh instansi lainnya, baik instansi pemerintah atau swasta.

7.                  Analisis Hasil Uji Coba
Setelah percobaan selesai dilakukan, akan dilakukan analisa terhadap hasil ujicoba terhadap sistem yang dikembangkan. Proses analisa ini meliputi beberapa hal, yang disesuaikan dengan karakteristik dari sistem informasi. Beberapa hal yang bisa dianalisa antara lain:
a.       Kinerja
b.      Scalability
c.       Reliability
d.      Usability

8.                  Kinerja
Kinerja yang dinilai adalah response time yang diterima oleh pemakai. Response time di sini dihitung mulai dari saat pemakai memasukkan kueri sampai pada saat pemakai menerima dokumen yang diinginkan dari sistem. Berhubung pengguna system dapat semakin bertambah, kinerja system perlu diperhatikan untuk menjamin kualitas layanan system EGovernment.

9.                  Security
Security di sini menunjukkan kemampuan sistem untuk menghadapi serangan-serangan yang tidak dikehendaki, terutama tindakan cracking.

10.              Reliability
Untuk mengetahui reliability dari sistem ini, harus disimulasikan juga proses failure terhadap beberapa komputer pemakai. Dalam keadaaan seperti tersebut, akan dianalisa apakah sistem akan mengalami failure juga secara keseluruhan, sebagian saja atau malah tidak ada pengaruhnya terhadap sistem.
11.              Usability
Untuk mengetahui tingkat usability dari sistem ini, harus dievaluasi tingkat kemudahan pemakai dalam mengoperasikan sistem. Untuk mencapai hal tersebut, bisa diberikan kuesioner untuk mengetahui respon dari pemakai mengenai kemudahan penggunaan terhadap sistem.


RINCIAN ANGGARAN
Pilih salah satu (beri tanda √):
( ) Riset di Lapangan
( √) Riset di Laboratorium























Penutup



Demikian proposal pembuatan E-Goverment Universitas Gunadarma ini kami buat. Kami mengharapkan dukungan dan partisipasinya. Semoga acara pelaksanaan kegiatan ini dapat terlaksana sebagaimana yang kita harapkan.Atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terimakasih. 


Anggota Kelompok :
1.      Nur Fadly Muhammad
2.      Nuroniyah Matsani
3.      Parlin Erwin Gunawan
4.      Prasetia Bagus Permadi
5.      Prasetyo Adi Nugroho
6.      Rahmat Ramdhani
7.      Reno Setyo Aji
8.      Ridho Sulystyo Indarto
9.      Teuku Hilman Luthfi